POPULER MINGGU INI

Thursday, September 3, 2020

AWAL ITU AKHIR

 


Hai! Kalian tahu? Bagaimana rasanya memulai? Emm menurutku memulai adalah sesuatu yang berat, sesuatu yang cukup menguras tenaga, sesuatu yang cukup memutar otak, sesuatu yang mungkin bisa dibilang cukup melelahkan. Mengapa seperti itu? Karena untuk memulai kita perlu mengakhiri sesuatu yang lain, karena untuk memulai itu kita meninggalkan sesuatu yang lain, karena untuk memulai kita harus menjadi sesuatu yang baru. Bukan begitu?

                Apakah kalian pernah harus memulai dan dengan sengaja harus mengakhiri sesuatu yang lain untu dapat memulai? Bagaimana rasanya? Apa sama beratnya seperti gambaranku? Apa sama melelahkannya seperti yang ku ungapkan? Atau mungki mamulai justru menyenangkan? Justru mudah dan memberikan semangat? Sepertinya kita perlu duduk bersama menikmati secangkir kopi, saling bertukar pandang, saling bertukar cerita dan pendapat. Mau kah kalian?

Thursday, February 6, 2020

LUKA LAMA



Terkadang aku benci sang malam
Karena disitu aku bertemu dengan dirinya
Terkadang aku benci kesepian
Karena disitu aku bertemu bayangnya
Terkadang aku benci kebingungan
Karena disitu aku bertemu kenangan tentang dirinya
Terkadang aku benci diriku
Karena aku tak sungguh sungguh mengikhklaskannya
Terkadang aku benci diriku
Karena menaruh sedikit harap darinya
Terkadang aku marah
Karena mengapa hanya ada dia
Terkadang aku sedih
Karena mengapa selalu tetap dia
Terkadang aku kosong
Karena mengapa tak ada dia
Terkadang aku merasa benar karena tak lagi bersamanya
Tapi lagi lagi, itu hanya terkadang
Terkadang aku berpikir
Apa yang sebenarnya aku pikir?
Terkadang aku berpikir
Ini Sakit. Perih. Tapi masih sering ku ungkit
Terkadang aku berpikir
Mengapa harus ada mengapa? Sehingga harus kucari alasan
Sebab dan Akibat
Yang namanya luka, tak akan pernah kembali seperti semula
Yang namanya luka, akan selalu meninggalkan bekas
Yang namanya luka, pasti mengukir sejarah

Saturday, January 4, 2020

BANDUNG


Bandung.
Kota dimana aku mengenalmu
Kota dimana aku temukanmu
Kota dimana ada kita
Kota dimana kuciptakan tulisan tulisan
Kusatukan ratusan kata hingga menjadi kisah
Bandung.
Kota dengan aku dan kamu didalamnya
Kota kita, dia, dan mereka
Kota dingin yang menghangatkan
Kota dimana kita berawal
Kota dimana kita berakhir pula
Awal adalah akhir di sisi yang lain
Awal dan akhir itu hanya bagaimana kita menganggapnya kan?
Sudahlah, kenangan memang bukan hanya untuk di kenang
Biarkan dia tinggal
Biarkan dia memberikan pelajaran
Biarkan dia ada namun tak perlu diada ada
Terkadang sakit yang terlalu sakit justru tak terasa sakit
Terkadang perih yang teramat perih justru tak dapat dirasa
Bandung.
Tetap indah mesti tak ada lagi kita.

Monday, September 2, 2019

HARI INI, ESOK, LUSA



Hangatnya sinar mentari berubah menjadi terik
Terik yang membakar jiwa, kini meredup menjadi senja
Senja yang sebentar lagi berangkat menuju petang
Langit kelam tanpa bintang, langit hitam milik sang malam
Mungkin akan berakhir hujan
Atau hanya sekedar sendu, kelabu
Tetapi tak menutup kemungkinan mampu menjemput pagi yang cerah
Esok, akan selalu menjadi misteri
Hari ini, akan selalu menjadi teka teki
Lusa, akan selalu menjadi kejutan
Lalu bagaimana kita?
Akankah menjadi Esok? Hari ini? Atau Lusa?
Bersama tapi tak sama
Berjalan namun tak sejalan
Aku, kamu, akankah kita?

Monday, June 10, 2019

ARTI



Malam itu, aku duduk bersama laptopku. Ditengan keramaian kedai kopi klasik bernuansa remang, menenangkan. hanya ada segelintir anak manusia duduk berpencar. Sengaja kupilih duduk menjauhi mereka. Kupasang hedset pada kedua telingaku, lagu Lara, milik Dialog Senja memanjakan telingaku. Aku mulai menulis, jari jemariku berlari kesana kemari. Memejam, memutar kedua bola mataku, meneguk hot tiramisuku, mencari cari apa yang hendak kucurahkan kali ini.
                Keramaian, canda tawa, kisah kisah tergambar pada bibir bibir pengunjung lain. Ah aku tak bisa berpaling pada keseruan mereka. Satu dua orang baru berdatangan, membuat kedai yang tadinya sepi, menjadi lebih ramai. Banyak orang berlalu lalang, namun aku hanya duduk bersemayam. Banyak orang berkata bercerita. Namun aku terdiam hanyut dalam kesendirian. Menjadi penonton dialog dialog dia dan mereka.
                Begitu banyak tema, begitu banyak persoalan, begitu banyak bahan obrolan, kira kira apa yang mereka bicarakan? Kira kira apa yang membuat mereka saling larut? Kira kira apa yang membuat mereka tertawa dalam satu waktu? Pertanyaan pertanyaan itu muncul begitu saja dalam otakku. Seakan otakku punya lawan berpikir. Ah, aku tak tau. Toh aku tak mampu mendengarnya. Mendengarnya pun aku juga tak mampu mengertinya. Mungkin karena saling mengerti mereka mampu larut, terhanyut dalam suasana yang mereka ciptakan.
Dari duduk sendiri, mengamati, dan berpikir pertanyaan ini dan itu,  aku mendapatkan sebuah pelajaran. Mungkin ini yang harus kumengerti, ARTI. Mengerti suatu arti, agar arti itu mampu memberikan arti, BERARTI.