POPULER MINGGU INI

Tuesday, September 12, 2023

BERHENTI (?)

  

        Aku hanya takut. Aku hanya terlalu banyak berpikir ini dan itu. Aku hanya tak mampu. Aku hanya tak tau. Sudah sangat lama aku terus begitu. Semua hanya ku rasakan, kemudian ku lupakan, tanpa pernah ku ungkapkan. Jangan ditanya bagaimana? Jangan ditanya apa rasanya? Aku sudah tak sanggup merasa. Kupikir aku cukup bijak untuk berusaha tak merasakan. Kupikir memang benar, semua rasa tak perlu diungapkan. Kupikir bijak untuk selalu banyak berpikir sebelum bertindak. Kupikir aku benar. Kupikir ini yang seharusnya. Aku hanya tak ingin sakit, aku hanya tak ingin sedih, aku hanya tak ingin… ah sudahlah, itu semua hanya kata kata yang ku rangkai agar menjadi kalimat indah untuk kau baca. Sudah kukatakan bukan, aku hanya takut, aku tak cukup berani untuk JUJUR untuk mengakui ini dan itu, mengakui aku menyayangimu, mengakui aku sungguh ingin bersamamu. Kupikir dengan ribuan kata yang aku rangkai, ratusan lagu yang aku dengarkan, puluhan buku yang aku baca, aku akan baik baik saja, kupikir aku akan mampu merelakan dengan baik. Ah sudahlah, bukankah ini yang menjadi pilihanku? Ternyata baru ini kusadari, aku hanya memilih cara lain untuk bersedih, aku hanya memilih cara lain untuk menangis, aku hanya memilih cara lain untuk sakit.
    Terimakasih untuk segala rasa yang pernah kau hadirkan, meskipun mungkin kau tak menyadari bahwa itu cukup membuatku tersenyum. Terimakasih kisah kisah yang kau ceritakan, itu cukup membuatku lebih mengetahuimu, meskipun sebenarnya ceritamu juga bukan hanya untukku. Terimakasih, mungkin aku belum sempat dan tak akan pernah sempat untuk katakan terimakasih, dan maaf aku tak sanggup untuk berterus terang, maaf aku tak mampu untuk mengatakan dengan jelas, kau tau? Begitu banyak tembok tembok yang sudah terlanjur ku bangun menjulang tinggi, luas, kokoh, yang bahkan aku sendiri lupa untuk memberikan satu pintu atau jendela.
    Pernah terlintas olehku, lucu juga ya, perempuan mungil sepertiku, yang mungkin sangat bebas berpendapat, tapi tak mampu utarakan perasaannya sendiri. Ya, itu tadi, memang terkadang tak semua rasa perlu diuangkapkan, seperti tumbuhan, tak semua tumbuhan perlu dirawat untuk menjadi tanaman bukan? Terkadang kita perlu memangkasnya, atau bahkan mencabutnya hingga ke akar agar tak mengganggu tumbuhan lain yang hendak kau besarkan menjadi tanaman. Mungkin ini adalah sebuah tanda untuk menjadi lebih dewasa. :)

Thursday, August 17, 2023

s = v * t

 


   Terkadang jarak mengajarkan kita tentang ruang dan waktu. Terkadang jarak mengajarkan kita tentang rindu. Jarak memberikan kita pelajaran. Yang jauh akan disadarkan. Dengan jarak kita mampu saling memahami dan saling mengerti. Namun dengan jarak pula kita dijauhkan, diuji, kemudian dipisahkan. 

    Jarak, mengajarkan kita untuk kembali. Jarak pula yang mengajari kita untuk mengakhiri. Dari jarak kita akirnya mengerti. Terkadang kita memerlukan jarak untuk saling introspeksi diri. Untuk kita yang tak lulus diuji, jarak akan menjadi mengerikan, menjelma menjadi petaka yang akhirnya hanya berbuah luka.

    Terimakasih, Karena aku telah bertemu dua sisi jarak. Jarak yang mengajariku untuk memahami dan jarak, yang memberiku pelajaran untuk mengakhiri, kemudian memahami.

Saturday, August 12, 2023

KITA SIAPA?

    


Terkadang kita menjadi berbeda, kita bukan diri kita. Kita menjadi berbeda saat ketika kita senang, ketika kita bahagia, ketika kita sedih, ketika kita susah, ketika kita galau gundah gulana, ketika kita marah, ketika kita punya masalah. Lalu sebenarnya siapa kita? Bagaimana kita? Begitu banyak kita yang semuanya berbeda.

    Kita adalah semuanya. Kita adalah kita saat senang, susah, gundah, ataupun punya masalah. Semuanya itu kita. Kita yang sesungguhnya hanya saja dalam versi yang berbeda hanya untuk menjadi bagaimana yang kita pikirkan. Ah, ya, benar. Kita memang seperti bagaimana yang kita pikirkan. Jadi, kita bagaimana yang kau pikirkan?

Saturday, August 5, 2023

BERBEDA

     



Setiap orang punya perasaan. Setiap orang punya pemikiran. Setiap orang punya pandangan. Setiap orang punya opininya masing masing. Iya, aku, kamu, kita, punya otak masing - masing, punya hati masing - masing. Mungkin hati dan otak kita tidak dapat bersatu. Namun, perasaan dan pemikiran kita dapat berjalan bersama. Mungkin tak selalu sama. Tapi juga tak mesti berbeda, kan? Sudah menjadi umum bahwa kita diciptakan berbeda. Namun lihatlah kita diciptakan juga dengan banyak kesamaan. Kita punya 2 mata indah, 2 telinga mungil, 1 mulut cantik, dan 1 hidung yang mungkin mancung. Yang paling penting, kita diciptakan sama sama memiliki 1 hati dengan sejuta rasa. Senang, sedih, susah, bahagia, berdebar, risau, galau, gundah, gulana, banyak lainya. Namun, karena kita diciptakan berbeda, aku bisa saja senang, tapi kamu galau. Aku bisa saja suka tapi kamu benci. Aku bisa saja tertawa tapi kamu menangis. Terkdang aku lupa aku bisa bahagia pada apa yang membuatmu bersedih. Maaf. Tapi, terkadang dirimu juga tak ingat bahwa aku juga bisa sedih pada apa yang membuatmu bahagia. Kita sama sama manusia yang sering lupa. Maaf ya, terkadang kebahagianku melukaimu. Maaf karena aku terlambat menyadari itu. Lalu apakah aku tidak boleh bahagia? Apakah kamu tidak bisa bersenang - senang? Tentu jawabanya Boleh. Bisa. Lalu bagaimana caranya? Sukup dengan saling mengerti, saling memahami, saling menghargai. 

Sampai disini kita sudah saling mmahami kan? Sekarang mungkin kita belum bisa bersenang senang bersama, tapi bukan berarti dilain waktu kita tidak bisa kan? Terimakasih sudah mengingatkan ku tentang ini. Kuharap suatu saat nanti kita bisa bahagia bersama, bersenang bersama ya! Saat hari itu tiba, akan aku nikmati tawa bahagiamu bersautan dengan tawa bahagiaku, senyum indahmu terlukis diwajahmu, berbaur dengan teduhnya suasana hatiku. Betapa indahnyaa saat hari itu tiba. Semoga kita segera bertemu pada hari itu ya, Aamiin :)


Dengan bahagia,


Ninawibi

Sunday, July 30, 2023

SEHARUSNYA



“Masalah seharusnya diselesaikan bukan diperpanjang.”

(Catatan Juang - Fiersa Besari)

 

Ya, Memang. Seperti SIM (Surat Ijin Mengemudi) saja diperpanjang. Manusia terkadang lebih suka memilih untuk menempuh jalur drama ini dan itu. Merasa semua dapat dselesaikan dengan “seharusnya”. Seharusnya dia minta maaf. Seharusnya dia mengerti. Seharusnya tidak begitu. Seharusnya, seharusnya, seharusnya. Hei, Bagaimana jika kita mulai tuangkan kopi kedalam cangkir, duduk bersama kemudian kita pecahkan dan selesaikan bagaimana itu “seharusnya”. Karena “seharusnya” itu kan menurutmu. Terkadang kita tidak cukup berani untuk mengemukakan. Kita terlalu takut mengungkapkan, yang ada, masalah justru bukannya dihadapi, tapi malah dihindari. Bukannya saling berbicara, namun malah berharap saling peka. Sering kali aku heran. Mengapa, ya, orang orang lebih senang membicarakan masalahnya kepada orang lain yang justru tidak ada kaitannya dengan masalah tersebut. Si A punya masalah dengan si B. Maka si A condong akan mencari si C dan memilih untuk bicara dengan si C. Tentu saja membicarakan masalahnya dengan si B, dengan sedikit bumbu bumbu supaya sedap. Supaya masalah terihat semakin rumit semakin indah dan semakin asik untuk dibicarakan. Kenapa ya, tidak langsung diungkapkan saja kepada si B? Dan pastinya cerita masalah itu tidak akan berhenti antara si A dan si C, dongen sebelum tidur itu akan terus menjadi dongeng dongeng dan obrolan seru yang tidak hanya diceritakan sebelum tidur namun juga akan menjadi topik menarik saat santai makan siang.

Masalah seharusnya diselesaikan, kan? Bukan hanya dibicarakan, disebarkan, kemudian diabaikan.

ninawibi.