POPULER MINGGU INI

Wednesday, April 3, 2019

RINDU KUE BOLU


Aku hanya tak ingin berkata. Yang kuingin sekarang hanya memejam, merenung, membayangkan hadirmu, hadirmu disampingku, mungkin ku merindu.


Rindu tak selalu tentang aku dan kamu
Rindu bisa tentang kita dan mereka
Rindu tak melulu membuat sendu
Rindu bisa juga semanis kue bolu buatan Ibu
Coba rasakan rindu!
Kau tau? Aku sedang merindu.
Tapi rindu ini lucu
Rindu manis yang membuatku tersipu
Ada yang bilang jangan merindu
Tapi bagiku, ah orang itu hanya ingin memonopoli rindu
Karena jika kau tau, rindu itu lucu.
Kau mampu tersenyum, hanya karna memikirkannya
Kau mampu tertawa, hanya karena terbayang
Rindu memang sendu, karena pasti ada jarak dan waktu
Ya! Begitulah rindu. Mungkin sulit bertemu,
Tapi cukup untuk merindu.

Monday, February 4, 2019

KITA ADALAH KATA




Kita adalah kata
Kata kamu, kata dia, kata mereka, tapi bisa juga kataku.
Mungkin aku tak sepertimu, tapi mungkin juga kamu tak sepertiku.
Kita adalah kata
Kita bisa seperti itu, tapi bisa juga seperti ini.
Mungkin sekarang kita menjadi ini, tapi kelak bisa juga menjadi itu.
Kita adalah kata
Jika kita adalah kata, maka kita bisa menjadi semua.
Jika kita adalah kata, maka tak ada aku tak ada kamu, yang ada adalah mereka.
Mengapa?
Karena kita adalah KATA.

Labuhan Deli, 04 Februari 2019

Ninawibi

Friday, January 25, 2019

HUJAN DAN KENANGAN




Hujan dan kenangan
Bukan hanya soal air mata
Atau masa masa yang pernah ada
Sesuatu yang lebih dari itu
Makna
Aku dan dia
Kamu dan mereka
Kita ada saat hujan
Terdiam memejam
Terhanyut bersatu dalam rintik dan kesemuan
Seperti Dilan dan Milea diatas motornya
Aku dan dia diatas khayal
Dikala hujan berharap warna
Bias aliran dan cahaya
Merah jingga biru bersatu
Senja
Teringat kala itu
Aku dibalik tirai semu menatap warna
Abadi dalam ingatan
Warna warna yang sama
Sama saat aku menatap dirinya
Menatap tepat kedua matanya
Indah




Ninawibi

Wednesday, January 16, 2019

BERCENGKRAMA BERSAMA MALAM



Terasa, ya terasa melelahkan. Terasa menjengkelkan, terasa begitu berat menjalani. Terasa aneh, terasa begitu asing. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa penyesalah terjadi setelahya? Sepertinya pertanyaan klasik yang tak kunjung mendapat jawab.  Ah, aku hanya ingin terdiam, bercengkrama bersama malam, dilengkapi sunyi, dan bimbang hati. Sepertinya kami sedang cocok belakangan ini. Sebenarnya aku tak ingin akur dengan mereka, tapi apa daya, merekalah yang mengerti dan dapat paham bagaimana aku saat ini. Mereka paham bagaimana memperlakukan diriku sekarang. Aku tak ingin terus bersama mereka, tapi apa dayaku yang tak mampu, tak mampu memecah sunyi, tak mampu melawan bimbang, tak mampu menjauhi sang malam. Kelam dalam gelap. Siang tak lagi menang, pagi tak lagi berseri. Sajak sajak indah tak lagi bermakna. Hampa. Satu kata tepat bagiku. Bernafas, tapi tak hidup. Makan tapi tak berkembang. Bahagia tapi tak terasa. Tersenyum tapi palsu. Seakan berjalan tapi terhenti. Seakan maju namun terpaku. Ingin ke berkata, namun terbungkam bimbang. Ingin ku melangkah namun tertahan perasaan tak tentu. Aku merasa tak berarti. Namun, aku sangat ingin mencari artiku. Artiku untuk ku. Dapatkah engkau membantu ku mencari artiku? Yang nantinya akan berarti untuk mu.

Saturday, October 20, 2018

MALAM MELAYANG


Aku, Aku tak tahu yang kupikirkan. Aku tak tahu apa yang kurasakan. Mataku menatap karya sastra. Tanganku menggenggam, membalik balikkan seiring mataku melahap karya karya itu. Tapi, tak satu pun dapat kumaknai. Ini kah yang orang katakan pikiran melayang? Oh, sekarang aku dapat merasakannya. Gejolaknya, gemuruhnya, terus menerus, ini itu, ini itu, tidak, bukan, bukan itu, iya, ini, memang benar adanya. Aku tak tahu bagaimana pikirku menggerakkan tubuhku, rautku, tanganku, mataku. Aku rasa gerakan – gerakan itu sungguh tak terkendali. Didalam otakku seakan ada yang bergemuruh, seolah ada yang memaksa untuk keluar, seolah ahentahlah apa ini. Entah bagaimana ku ungkapkan. Mungkin aku hanya tak mengerti. Aku hanya ragu, bimbang, tak menentu. Apa aku ini, ada apa denganku. Aku sungguh tak dapat mengerti aku. Tak dapat kendalikan aku, tak dapat apa pun itu padaku. Aku hanya sebuah kehampaan, aku hanya sebuah kebimbangan.
Aku yang tak mengerti. Bisakah engkau artikan ini untukku?
                Aku termenung dengan buku dan pena dihadapanku sekarang, tapi entah harus kuapakan mereka. Entah harus aku jadikan apa mereka. Aku terdiam. Kupejamkan mataku, kurasakan ragaku, lebih dalam lagi, jiwaku. Kunikmati kesepian, suara detik jam hijauku diatas mejaku. Semakin dalam kurasakan kesunyian malam. Bisa kau dengar? Ya. Itu. Suara malam. Ku dengar, dan coba kurasakan suara malam ditelingaku. Kupejamkan mataku sambil kuresapi sunyinya malam berbaur dengan irama detik jam diatas mejaku. Kemudian ku raih penaku, ku goreskan pada buku ku. Tetap dalam diam. Sampai pada bait bait yang kau baca ini. Aku masih menikmati kesunyian malam, namun kali ini, ditambah dengan irama goresan pena pada lembar buku ku dan suara gerak tanganku seiring paragraf paragraf ku susun kata demi kata. Tentang malam. Masih tentang malam ini dan kesendirian ini. Malam dan aku. Sunyi.
Ninawibi