Kadang Aku berpikir mengapa aku jadi aku, kamu jadi kamu, Aku berpikir
jauh kedalam diriku. Namaku, perilakuku, keseharianku, hidupku. Aku hanya tak
mengerti. Aku tak mengerti apa pun tengtangku. Padahal aku adalah aku. Aku
hanya coba untuk menemani waktu yang terus menatapku, menggenggamku, dan
memelukku. Aku melihat, mendengar, bernafas, meraba raba masa yang terus
mendekatiku, yang akan segera menjemputku pada keadaanku. Saat bagaimana pun
aku. Aku tau tapi aku tak tau. Selalu kulakukan untuk apa itu aku. Memejamkan
mata. Menolak untuk tak mengerti, menolak untuk tak memahami. Berlaku seolah
aku pahami. Aku tak tau harus jadi bagaimana aku. Aku hanya ingin ini dan itu.
Aku rasa terlalu banyak inginku. Aku pikir, aku hanya ingin dicintai. Aku ingin
mencintai. Dicintai semesta, mencintai semesta. Aku ingin berguna untukmu. Tapi
untukku? Aku ingin hebat untukmu. Tapi
untukku? Aku ingin kuat untukmu. Tapi untukku? Aku ingin indah untukmu. Tapi
untukku? Aku ingin bahagia untukmu. Tapi untukku? Hah. Apa yang kupikirkan.
Merindukan cinta hanyalah akan melemahkan dan mendambakan sayang adalah
pelengkap penderita. Ahsudahlah. Aku rasa aku hanya perlu BAHAGIA dengan
caraku.
POPULER MINGGU INI
-
Aku tak ingin larut. Kau tau? Gula dan Kopi. Mereka larut menjadi nikmat. Begitu pula dengan larutan larutan lain yang sering kita n...
Monday, July 31, 2017
Thursday, May 11, 2017
IRONI
Ironi. . .
Kebiasaan menjadi biasa. . .
Gelap Terang sudah tak bermakna. . .
Aku yang tau hanya bungkam. . .
Kalian yang tak tau, malah tak mau tau. . .
Ketika Kebenaran mulai tertutup Debu. . .
Lalu, siapa yang akan menjadi kemoceng untuk membersihkan, ketika aku dan kalian, justru sama sama menjadi Debu?
Tapi kawan, masih ada harap aku dan kalian menjadi kemoceng. . .
Aku dan Kalian menyalakan Api perjuangan. . .
Berkobar dan tak gelisah. . .
Semangat Kawan, Rintangan tak sesukar yang diceritakan dalam kisah kisah tak bermuara, tak berbelit bagai drama drama remaja. . .
Karena setiap perjuangan akan menemui akir yang serupa dengan seberapa besar kita memperjuangkan. . .
Berjuang tak harus ada didepan, tapi harus beralasan. . .
Kebiasaan menjadi biasa. . .
Gelap Terang sudah tak bermakna. . .
Aku yang tau hanya bungkam. . .
Kalian yang tak tau, malah tak mau tau. . .
Ketika Kebenaran mulai tertutup Debu. . .
Lalu, siapa yang akan menjadi kemoceng untuk membersihkan, ketika aku dan kalian, justru sama sama menjadi Debu?
Tapi kawan, masih ada harap aku dan kalian menjadi kemoceng. . .
Aku dan Kalian menyalakan Api perjuangan. . .
Berkobar dan tak gelisah. . .
Semangat Kawan, Rintangan tak sesukar yang diceritakan dalam kisah kisah tak bermuara, tak berbelit bagai drama drama remaja. . .
Karena setiap perjuangan akan menemui akir yang serupa dengan seberapa besar kita memperjuangkan. . .
Berjuang tak harus ada didepan, tapi harus beralasan. . .
Love,
Ninawibi
Saturday, April 29, 2017
JANGAN MENDEKAT
Jangan
Mendekat.
Jangan
Mendekat, karena nanti kau akan terikat.
Jangan
Terlihat, karena nanti kau akan tertatap.
Jangan.
. . Jangan. . . Jangan. . . Kalau memang kau tak mau untuk mulai memahat.
Itu kenapa aku tak mau mulai menyukai. Tak mau mulai
mencintai. Semua akan membuatku Tenggelam. Tenggelam dalam lautan hingga
kudapat makhluk laut bersinar. Aku tak mau memulai karena tak sanggup bertemu
akhir. Aku tak ingin memulai karena tak ingin terbayang bayang, terhantui, dan
terus terkunci.
Tapi kenapa ini justru dimulia? tapi kenapa justru aku
mencari mencari mencari dan terus mencari. . . Memulai tanpa harus belajar
berenang. Oh tidak. . . Tolong. . . aku mulai tenggalam. Tolong aku. Siapapun
Tolong Aku. Apapun Tolong raih tanganku. Bimbing aku, kumohon bukan untuk
menjahui lautan. tapi untuk mempelajari lautan dengan segala indahnya. Ajari
aku berenang. Ajari aku mulai menikmati keindahannya. . . Agar aku tak hanya
tenggelam, diterjang ombak, dan terbawa arus. Tapi aku dapat mengerti. Mengerti
birunya lautan, jingganya lautan saat bertemu matahari, dan hitamnya lautan
saat menyapa sang rembulan. Agar aku mampu menatap tanpa harus melihat, agar
aku mampu mengikat tanpa harus terikat.
Terkadang
sesuatu memang tak perlu memiliki arti, Bukan begitu?
Karena
Arti adalah apa yang kau pahami. Bukan apa yang memahami dirimu.
Love,
Ninawibi
Tuesday, April 18, 2017
INGIN TAK INGIN
Sulit, Sulit tuk
ungkapkan apa yang kurasa saat ini. Aku tak tau, benar benar tak tau apa yang
sedang kupikir, kurasa, kulakukan. aku tak mengerti apa yang kulihat, kudengar, dan kucium. Semua begitu berat, bergerak diluar
kendaliku, diluar segalanyaku, tak kusangka semua dapat bermuara pada keadaan
seperti ini. Keadaan dimana aku tak dapat mengerti aku, tak dapat mengerti kamu. Tak satupun,
semua tak kupahami tak aku mengerti. Aku tak lagi ingin menghilang. Aku hanya tak ingin aku. Tak
ingin kamu. Tak ingin keadaan ini. Apa aku salahkan keadaan? Bukan. Aku hanya
tak ingin. Lalu apa? Mengapa? Bagaimana? Ah mengapa begitu banyak kata tanya,
begitu banyak kalimat yang menanyakan ini dan itu. Aku tak mengerti. Aku tak
mau mengerti. Aku hanya ingin menarik nafas, menghembuskan nafas, memejamkan
mata, membuka, dan kamu selamatkanku. Tapi apa dayaku yang hanya memandang
kekosongan, memandang kehampaan, memandang harapan. Harapan yang sekedar harap.
Harapan yang mungkin sebentar lagi sirna, sebentar lagi akan terganti. Terganti
harapan baru yang mungkin juga akan bernasib sama. aku sudah tak sanggup. aku segera ingin berlalri. berlari lalui ini. akhiri hari ini. hari yang membuat aku tak mengerti aku. Oh sungguh aku tak mengerti, aku tak ingin. Tak
ingin semua ini. Tak ingin ini tak ingin itu. Aku hanya ingin kamu. Inginkan hadirmu.
Love,
Ninawibi
Friday, April 7, 2017
MASALAH ???
Masalah... Masalah datang begitu saja sewaktu waktu tak terduga. Kadang
besar, kecil, banyak, sedikit, sulit, mudah, kadang harus sampai membuat aku
menjadi entah siapa aku, kamu menjadi sesuatu yang lain entah apa siapa. Kita
menjadi bukan lagi kita tapi tetap kita. Masalah, oh bukankah ini hanya perlu
kita selesaikan satu per satu. Satu dua tiga, sungguh tak tau sampai berapa aku
menghitung jumlahnya. Sepertinya aku hanya perlu berlalu. Tapi tunggu apa
masalah juga ikut berlalu? Atau justru dia bersemayam didalamku, didepanku,
dibelakangku, disampingku, diatasku, dibawahku, disekitarku. Atau sepertinya
harus aku akhiri ini semua. Tapi bukankah ketika ada akhir, muncul suatu awal
lagi dan lagi harus kita awali, yang akan mengantarkan kita pada masalah lain
lagi yang nantinya harus kita dihadapi. Lalu harus seperti apa kita sikapi ini?
Masalah? Berlalu kemudian mendekat. Selesai kemudian dimulai. Selalu ada,
dimana mana dalam kehidupan. Mungkin ini sebuah bentuk Tuhan ada disekitar
kita. Tuhan paham bagaimana kita, seberapa pantas kita bermasalha, seberapa
layak kita menyelesaikan masalah, seberapa baiknya kita mendapat masalah,
menyikapi, dan mempelajari adanya masalah. Satu masalah akan menuntun kita
kearah yang seharusnya kita diarahkan. Dua masalah akan menguatkan kita menuju
arah yang diarahkan. Tiga, empat sampai tak hingga memantapkan kita bahwa
masalah akan ada dan selau ada diarah manapun didalam apapun, kita hanya perlu
melalui, melewati, dan lebih tepatnya kita harus menyelesaikannya untuk memulai
suatu masalah yang baru.
Love,
Ninawibi
Subscribe to:
Posts (Atom)
